Kemenparekraf ajak pelaku usaha kuliner di Bali terapkan protokol CHSE

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengajak pelaku bisnis kuliner di Bali menerapkan protokol CHSE (Clean, Health, Safety, Environment) agar tetap produktif dan membuat konsumen merasa aman di tengah wabah penyakit. . COVID-19.

Staf Ahli Menteri Reformasi dan Peraturan Birokrasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf, Ari Juliano di Jakarta, Jumat, mengatakan, industri kuliner merupakan salah satu subsektor utama dalam mendorong perekonomian.

Oleh karena itu, penting bagi pelaku bisnis kuliner untuk menerapkan protokol CHSE pada saat pandemi COVID-19, sehingga tercipta rasa damai dan kepercayaan bagi konsumen untuk membeli produk, ujar Ari.

Baca juga: Kemenparekraf Revitalisasi Destinasi Wisata di Bali

Ia mengatakan telah mengadakan acara MASAMO dan implementasi CHSE di bidang kuliner yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 5 November 2020.

Penyelenggaraan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan semangat dan memberikan edukasi dalam mengembangkan bisnis dan produk kuliner bagi para pelaku usaha kuliner dalam menerapkan protokol CHSE pada saat wabah COVID-19 terjadi, ”ujar Ari Juliano.

Kementerian Pariwisata juga telah mengeluarkan pedoman teknis penerapan protokol CHSE untuk pariwisata, termasuk bisnis kuliner, yang dapat diterapkan oleh bisnis kuliner seperti restoran dan tempat makan.

Baca juga: Menparekraf mengapresiasi kesiapan Bali dalam menarik kepercayaan masyarakat di bidang parekraf

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan protokol CHSE yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha kuliner adalah menjaga kebersihan baik dari segi tempat, peralatan, makanan, hingga bagian pengolahan.

“Jadi sarannya saat membuka resto atau resto yang bisa dilakukan untuk mencegah adanya COVID-19 adalah buka pintu dan ventilasi. Karena ruang terbuka lebih aman dari pada yang tertutup. Kemudian disinfeksi ruangan. Jadi semuanya dibersihkan, taplak meja diganti dan seterusnya, "kata Dr. Suarjaya.

Baca:  Kerugian operator arung jeram dampak COVID-19 mencapai Rp39,9 miliar

Menurut dia, COVID-19 bisa menempel di permukaan kayu hingga tiga jam, sedangkan jika pada benda yang terbuat dari kaca, virus bisa bertahan hingga 5 jam. Oleh karena itu, penting untuk selalu membersihkan meja makan sebelum dan sesudah pelanggan makan.

Baca juga: Industri pariwisata di Bali memantau wisatawan dari negara tetangga baru saat ini

Para akademisi melanjutkan, meski COVID-19 tidak disebarluaskan melalui makanan, namun kebersihan pelaku usaha harus dijaga dengan disiplin. Selain itu, penting juga untuk mengimplementasikan protokol kesehatan untuk pengguna yang masuk.

“Virus tidak menular melalui makanan, jadi dianjurkan untuk meminumnya secara teratur, karena ketika masuk ke sistem pencernaan akan mati. Virus tidak tahan terhadap asam lambung. Namun, yang digunakan untuk membungkusnya bisa berperan sebagai mediator virus. Restoran juga harus menerapkan protokoler. “Untuk pengguna yang masuk, cuci tangan, jaga jarak, dan gunakan masker saat makanan belum tersaji,” ujarnya.

Chef Martin Natadipraja menjelaskan, yang tidak kalah pentingnya untuk mencegah penyebaran COVID-19, pelaku usaha kuliner diminta untuk membersihkan bahan makanan dengan baik sebelum memasak.

“Yang pertama kalau mau mulai masak harus cuci tangan pakai masker. Jadi kalau bersin atau batuk tetesannya jangan menempel pada makanan atau alat masak dan makan. Dan juga penting membersihkan sayur dan bahan makanan lainnya dengan teknik itu. Benar, "kata Chef Martin.