Kemenparekraf berupaya bangkitkan geliat pariwisata di Desa Kerobokan Bali

Kemenparekraf berupaya bangkitkan geliat pariwisata di Desa Kerobokan Bali

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berupaya menghidupkan kembali pariwisata di Desa Kerobokan, Bali yang terdampak wabah COVID-19 melalui Gerakan BISA (Clean, Beautiful, Healthy and Safe).

Koordinator Pendidikan II / Analis Ahli Kebijakan Madya, Kemenparekraf, Jemmy Alexander di Jakarta, Jumat, mengatakan diperlukan upaya nyata untuk membangkitkan pariwisata, misalnya melalui Bimbingan Teknis Fotografi (Bimtek) dan program Gerakan BISA.

Kami mengadakan program bimbingan teknis dan gerakan BISA di Desa Adat Kerobokan, Kabupaten Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, pada 4 Desember 2020, ujarnya.

Ia menuturkan, kegiatan ini untuk mendukung pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif khususnya masyarakat di Kabupaten Tabanan, tepatnya di Desa Kerobokan, Kabupaten Baturiti.

“Kegiatan ini digelar untuk mengantisipasi dampak epidemi COVID-19 yang berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Pandemi ini berdampak langsung pada sektor pariwisata ekonomi kreatif, baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung,” ujar Jemmy.

Baca juga: Kemenparekraf bekerja sama dengan 12 mitra Travel Co-Branding di Bali

Lebih lanjut Jemmy menambahkan, peserta dalam kegiatan yang dihadiri adalah pekerja langsung dan pekerja tidak langsung yang mendukung destinasi wisata atau pariwisata di Kabupaten Tabanan.

“Dalam Gerakan BISA ini wisatawan diajak untuk membersihkan, menata ulang dan menyemprotkan desinfektan di destinasi wisata tersebut. Kegiatan ini dilakukan dengan selalu memperhatikan pelaksanaan protokol kesehatan,” kata Jemmy.

Di sisi lain, Jemmy mengatakan, Kemenparekraf / Baparekraf juga memfasilitasi kegiatan bimbingan teknis bertema fotografi menggunakan smartphone. Peserta diberikan pelatihan singkat oleh narasumber fotografer berpengalaman untuk memotret produk ekonomi kreatif.

“Selain itu juga mengajarkan bagaimana memasarkan produk ekonomi kreatif melalui media sosial dengan menggunakan teknik foto dengan handphone. Bagaimana foto akan menarik dan disukai masyarakat. Tujuannya tentu untuk menambah penghasilan saat menghadapi situasi dan beradaptasi dengan kebiasaan baru,” jelasnya. dia.

Baca juga: Kemenparekraf Ajak Pebisnis Kuliner di Bali Terapkan Protokol CHSE

Guru Besar Pariwisata Universitas Udayana Prof I Gede Pitana mengungkapkan, kegiatan yang dimulai oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf sangat baik dalam persiapan menyambut kebangkitan pariwisata.

Baca:  Hotel dan restoran diminta pahami mekanisme dana hibah pariwisata

“Saya optimis dengan kebiasaan baru, dengan kebiasaan baru, pariwisata akan dihidupkan kembali meski dengan gaya dan metode yang berbeda. Oleh karena itu, persiapan berbagai kegiatan untuk memenuhi hal ini sangat penting,” ujar I Gede Pitana.

Lebih lanjut I Gede Pitana mengatakan bahwa pelatihan fotografi dengan menggunakan smartphone merupakan hal yang baru, karena biasanya jika berbicara tentang fotografi, orang akan membayangkan menggunakan kamera DLSR. Bahkan, kata dia, kamera ponsel pun bisa digunakan untuk mengambil gambar berkualitas.

“Saya berharap akan ada lebih banyak acara seperti ini dan lebih banyak orang yang terlibat. Jadi semakin banyak yang kita lakukan, semakin banyak pula wirausahawan baru yang potensial,” kata I Gede Pitana.

Baca juga: Menparekraf mengapresiasi kesiapan Bali dalam menarik kepercayaan masyarakat di bidang parekraf

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Tabanan I Gede Sukanada mengatakan, kegiatan yang digelar Direktorat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Tabanan merupakan yang ketiga. Yang pertama diadakan di Pura Ulun Danu dan yang kedua di Jatiluwih. Saat ini kegiatan tersebut dilakukan di Desa Kerobokan.

“Kegiatan ini bagi kami merupakan persiapan untuk meningkatkan dan mempersiapkan diri, termasuk kualitas dan kuantitas sumber daya manusia dalam menyambut pariwisata pasca epidemi,” ujar I Gede Sukanada.

Kegiatan ini, lanjutnya, bisa dijadikan momentum dan awal yang baik untuk merevitalisasi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Ke depan kita harus bersiap menghadapi perubahan teknologi. Kalau kita punya potensi besar dan luar biasa tapi tanpa dukungan SDM dan teknologi kita tidak akan jadi apa-apa,” ujarnya.

I Gede Sukanada juga mengimbau kepada seluruh stakeholders pariwisata di Bali untuk tidak meninggalkan spirit pariwisata Bali seperti adat istiadat, budaya dan keramahan.

Sejauh ini, itulah yang kami banggakan dan jangan biarkan menyusut. Salah satunya adalah budaya kerja sama, "ujarnya.