Kemenparekraf cari strategi kembangkan karya kreatif lokal di Labuan Bajo

Kemenparekraf cari strategi kembangkan karya kreatif lokal di Labuan Bajo

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf / Baparekraf) mengidentifikasi berbagai strategi dalam mengembangkan karya kreatif lokal dalam upaya meningkatkan daya tarik wisata di Labuan Bajo, NTT.

Staf Ahli Bidang Inovasi dan Kreatif Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf, Joshua Puji Mulia Simanjuntak, Jumat, mengatakan saat ini wisatawan domestik dan mancanegara tidak hanya sekedar bersantai atau melihat keindahan alam, tetapi wisata yang memberikan pengalaman bagi wisatawan itu sendiri.

Salah satu upaya agar wisatawan mendapatkan pengalaman berwisata adalah melalui karya atau produk kreatif lokal seperti kerajinan tangan, fesyen, kuliner, dan seni pertunjukan. Untuk itu diperlukan strategi untuk mengembangkan kreativitas lokal khususnya di Labuan Bajo yang merupakan destinasi pariwisata kelas premium, kata Josua Simanjuntak.

Baca juga: Kemenparekraf membuka pendaftaran untuk Kompetisi Pitch Startup Nasional HighPitch 2020

Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf memulai kegiatan diskusi kelompok terfokus yang dimoderatori oleh Aloysius Baskoro Junianto, akademisi dari subsektor Desain Produk, agar para pelaku industri ekonomi kreatif mendapatkan informasi baru sehingga dapat membuat strategi terkait ekspansi dan inovasi. di subsektor ekonomi kreatif di Labuan Bajo.

Direktur Badan Otoritas Pariwisata Labuan Bajo Flores bersama Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat, Shana Fatina dan Agustinus Rinus, menjelaskan saat ini mereka sedang menggalakkan inkubasi berbagai karya kreatif seperti kuliner, fashion, seni pertunjukan, musik dan tari, dengan melibatkan masyarakat sekitar dan sharing profile. Potensi apa yang ada di wilayah Manggarai Barat.

“Teman-teman masyarakat kemudian bisa memamerkan dan berinteraksi dengan wisatawan. Mereka bisa menghadirkan karya kreatif lokal asli kepada wisatawan dengan konsep destinasi premium. Hal ini dilakukan agar wisatawan benar-benar merasakan dan merasakan kemewahan yang tidak ditemukan wisatawan di tempat lain,” ujarnya. kata Shana Fatina.

Baca juga: Promosi Pariwisata Northland Melalui Kompetisi Video Sinematik Diapresiasi

Sementara Konsultan Ahli Kuliner Vita Datau mengatakan pengeluaran terbesar wisatawan adalah membeli makanan, minuman, dan oleh-oleh.

Baca:  Kemenparekraf dorong mobilitas wisatawan melalui program "Big Promo"

Hal ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Karena itu, wisata kuliner di Labuan Bajo harus diperluas.

Misalnya, ada sebuah desa di Manggarai Barat yang memproduksi gula sendiri. Ini merupakan potensi yang sangat baik untuk mengembangkan atraksi kuliner. Wisatawan bisa terlibat langsung dalam proses pembuatan gula ini. Sehingga bisa menciptakan daya tarik wisata kuliner baru, kata Vita Datau.

Lebih lanjut Vita Datau mengatakan bahwa trend memasak dunia saat ini adalah makanan harus bergizi dan sehat serta mengedepankan produk lokal seperti ikan, sayur mayur dan produk masakan khas lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan peningkatan kualitas produk lokal.

Pakar Konsultan Kriya, Fauzy Prasetya Kamal, mengatakan hanya sedikit pengrajin yang bisa mengaplikasikan ketrampilannya pada ilmu, sehingga ketrampilan tersebut tidak mendapat pengembalian uang pada generasi selanjutnya.

Baca juga: Kemenparekraf gencar berpromosi untuk menghidupkan kembali pariwisata Indonesia

Dengan kondisi tersebut maka perlu adanya peningkatan kompetensi sumber daya manusia, agar pengrajin memiliki kemampuan menulis keahliannya. Karena dalam pengembangan karya kreatif, tidak hanya produk yang harus ditingkatkan, tetapi sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian. Jadi, regenerasi pengrajin akan terus berlanjut, kata Fauzy.

Konsultan Spesialis Fashion Aprina Murwanti mengatakan potensi lokal utama fashion di Manggarai Barat yang bisa dikembangkan adalah kain tenun. Namun tantangan dalam pengembangan tenun ini adalah belum terbentuknya ekosistem fashion tenun.

Untuk mendukung perkembangan produk fesyen tersebut, diperlukan kolaborasi dengan desainer dalam mengelola busana secara berkelanjutan. Ini karena penenun belum sepenuhnya terbuka dengan dunia fashion. Selain itu, perlu dikembangkan gaya ragam hias dan tekstur tenun, serta memberi kesempatan kepada penenun untuk membuat pameran, kata Aprina.

Dengan mengembangkan produk kreatif lokal unggulan, mereka dapat berkontribusi pada pariwisata berkualitas dengan nilai ekonomi tinggi, sehingga diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif di Labuan Bajo.