Kemenparekraf dorong perlindungan HKI untuk kopi Bengkulu

Kemenparekraf dorong perlindungan HKI untuk kopi Bengkulu

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menekankan pentingnya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk produk pariwisata dan ekonomi kreatif, termasuk kopi sebagai upaya memperkuat pembangunan pariwisata di suatu daerah.

Direktur Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf, Robinson Sinaga, dalam keterangannya, Sabtu, mengatakan pihaknya telah menggelar kegiatan Penguatan Kekayaan Intelektual Industri Kopi di Bengkulu pada 2-6 November 2020. Bengkulu khususnya kopi.

Baca juga: Kemenparekraf hampir mengajak turis berwisata kopi di Jakarta

Bengkulu memiliki dua indikasi geografis yaitu Kepahiang dan Rejang Lebong. Produk referensi geografis perlu didaftarkan dan dikomersialkan menurut daerah asalnya masing-masing. Namun, di banyak daerah, anak muda belum memahami cara mengolah kopi dengan baik. Untuk itu, kami mendorong peran anak muda untuk mengembangkan kekayaan intelektualnya khususnya yang berbasis kopi sehingga dapat menambah nilai tambah, ujarnya.

Sembari Penguatan Kekayaan Intelektual Industri Kopi di Bengkulu, hadir pula 60 pengusaha kopi dan perwakilan masyarakat penyuka kopi dari sekitar Bengkulu, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, Koordinator Fasilitasi Kekayaan Intelektual II, Muhammad Fauzy, Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Samsul Hidayat, dan Anggota DPR. Komisaris X Dewi Coryati.

Kopi, lanjut Robinson, merupakan bagian dari subsektor ekonomi kreatif yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf, subsektor kuliner.

Baca juga: Tukang kayu bilang kopi bisa jadi atraksi turis

Robinson juga menyampaikan bahwa setiap kopi yang diproduksi di berbagai daerah di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda dari segi rasa dan aromanya.

Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman bagi para operator tur yang memiliki usaha kedai kopi dan produsen kopi untuk memahami HKI, khususnya indikasi geografis produk.

Baca:  Kemenparekraf optimalkan potensi pariwisata domestik di tengah kontraksi ekonomi

Oleh karena itu (produsen dan operator kedai kopi) tidak hanya memahami produksi kopi, tetapi juga perlu memahami HAKI terutama indikasi geografis produk agar bangga dengan produksinya dan menjadikan produk tersebut ciri khas Bengkulu dan sekitarnya, ujarnya.

Baca juga: Kampanye #OneInCoffee Dorong Bisnis Kopi di Tengah Pandemi Covid-19

Dalam kesempatan yang sama, Komisioner Komisi X DPR Dewi Coryati berharap para pelaku dan pengusaha kopi diharapkan dapat melakukan improvisasi yang baik dalam pembuatan dan presentasi. Kesempatan yang sangat baik ini tidak boleh disia-siakan dan harus dimaksimalkan untuk dipelajari.

Kegiatan ini diharapkan memiliki rencana tindak lanjut, seperti mendirikan kedai kopi, fokus pada proses roasting kopi atau lainnya, bagaimana memberi nilai tambah pada indikasi geografi kopi di Bengkulu, ujarnya.