Kemenparekraf gelar uji publik Program Aksilarasi Labuan Bajo

Jakarta (ANTARA) – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah melakukan uji umum Program Akselerasi Labuan Bajo (Action in Harmony) untuk melihat produk unggulan dari empat subsektor kreatif antara lain musik, seni, seni pertunjukan, dan penerbitan, yang telah disertai untuk 3 bulan.

Direktur Musik Seni Pertunjukan dan Publikasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mohammad Amin, Jumat, mengatakan tes umum Aksilaration dilakukan secara online agar karya bisa dinikmati dan mendapat masukan dari masyarakat.

Tes publik yang dievaluasi adalah pencapaian produk. Kami juga mengajak para penangkap untuk memberikan masukan yang konstruktif dan mengevaluasi produk yang dihasilkan, tujuannya agar produk kreatif yang dihasilkan nantinya dapat direproduksi menjadi produk perkamen, kata Mohammad Amin.

Baca juga: Kemenparekraf dorong UKM Labuan Bajo untuk kreatif dan inovatif melalui "aksilarisasi"

Program Akselerasi yang bertujuan untuk mendukung Labuan Bajo sebagai destinasi wisata yang sangat penting telah dimulai sejak September 2020.

Bersamaan dengan itu dilakukan pula kegiatan inkubasi pada 3-16 Oktober 2020 untuk menghasilkan produk unggulan dari 4 subsektor dan pada 19 November 2020 dilakukan public testing.

Ada 16 karya yang diujicobakan oleh masyarakat, diantaranya 3 karya musik yaitu Sompo, Flores Human Orchestra, dan Labuan Bajo World Band.

Kemudian ada 8 karya seni pertunjukan yang terdiri dari 3 tarian berdasarkan tradisi, 2 tarian pop hewan Komodo, dan seni pertunjukan teater. Kemudian ada manuskrip yang terdiri dari, cerita rakyat, pertunjukan kolosal. Ada juga seni dalam bentuk situs web khusus. Terakhir, ada 4 karya terbitan yang terdiri dari 3 seri buku dummy di Labuan Bajo, dan 1 peta eksplorasi Labuan Bajo.

Baca juga: Kemenparekraf sedang mencari strategi mengembangkan karya kreatif lokal di Labuan Bajo

Baca:  Kerugian operator arung jeram dampak COVID-19 mencapai Rp39,9 miliar

Amin mengatakan, usai uji publik digelar, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan terus memberikan pendampingan kepada peserta Program Akselerasi 5 tahun ke depan.

2020 adalah tahun produksi. Jika tahun ini belum sempurna maka masih ada tahun lagi. Kami akan terus memberikan pendampingan selama 5 tahun hingga akhirnya produk kreatif ini matang, ujarnya.

Penulis Nusa Tenggara Timur yang juga membidangi subsektor penerbitan, Dicky Senda, mengaku senang dengan adanya ujian umum Aksilaration, karena buku-buku palsu yang telah ia persiapkan bersama 30 peserta akan mendapat berbagai masukan sehingga kualitas isi buku menjadi lebih baik. .

Baca juga: Taman Nasional Komodo menerapkan sistem registrasi online untuk wisatawan (video)

Public test kita masih hampir 50 persen, masih banyak review, dan tentunya public test ini merupakan bagian dari pengembangan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Oleh karena itu, kami berharap buku-buku tersebut dapat dicetak dan dipajang di tempat-tempat umum, serta dapat dijadikan pedoman bagi wisatawan saat berwisata ke Labuan Bajo, kata Dicky.

Sementara Penanggung Jawab Sub Bidang Seni Rupa Heri Pamad berharap dengan adanya Program Acsilaration, produk seni juga bisa menjadi identitas di destinasi wisata Labuan Bajo.

Sebagai harapan bersama, Labuan Bajo tidak hanya terkenal dengan komodo dan keindahan alamnya, tapi juga ikon-ikonnya yang nantinya memiliki image yang sangat kental pada unsur artistiknya, kata Heri.