Kerugian operator arung jeram dampak COVID-19 mencapai Rp39,9 miliar

Kerugian operator arung jeram dampak COVID-19 mencapai Rp39,9 miliar

Sukabumi, Jawa Barat (ANTARA) – Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) menyatakan dampak pandemi COVID-19 terhadap operator arung jeram di Indonesia selama empat bulan mencapai Rp 39,9 miliar akibat penutupan sementara kegiatan sebagai upaya mencegah penyebaran virus.

“Di Indonesia, setidaknya ada 200 operator wisata arung jeram yang tersebar di 17 sungai di 12 provinsi. Akibat wabah itu, semua operator tidak bisa beroperasi sehingga tidak ada pemasukan atau pendapatan sama sekali,” kata Ketua FAJI Amalia Yunita di Sukabumi, Senin.

Menurut dia, untuk mengetahui seberapa besar kerugian yang ditanggung oleh operator rafting tour, mereka melakukan survei dan dari 200 operator yang menjawab sebanyak 43 operator, kerugiannya terhitung hampir Rp 40 miliar.

Bisa saja, jika semua operator menjawab bahwa kerugiannya lebih besar. Selain itu, dari hasil survei tersebut, operator hanya bisa bertahan selama tiga bulan untuk menjaga stabilitas keuangan seperti membayar gaji karyawan dan lainnya.

Kerugian industri pariwisata yang memanfaatkan arus sungai akibat batalnya berbagai kegiatan dan puncaknya pada hari raya Idul Fitri 1441 H, tentunya menjadi momen bagi seluruh pengusaha untuk mendapatkan penghasilan.

Pasalnya, pada hari libur, jumlah kunjungan biasanya meningkat. Namun, karena pandemi dan adanya kebijakan pemerintah di masing-masing daerah dalam upaya mencegah penyebaran COVID-19, semua operator tidak dapat beroperasi.

Baca juga: PT Jamkrindo membantu menghidupkan kembali dunia pariwisata di Sukabumi

Namun keadaan ini juga dialami oleh para operator rafting tour tidak hanya di Indonesia, tapi juga di berbagai negara lain. Oleh karena itu, FAJI pun mengambil langkah dan upaya untuk mengurangi dampak yang dirasakan karyawan.

Seperti meminta pegawai operator arung jeram untuk mendapatkan kartu pra-kerja dan mengumpulkan bantuan lainnya. Dampak lain juga dirasakan oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), karena tidak ada kegiatan (kunjungan), tentunya tidak memperoleh penghasilan.

Berbeda dengan krisis ekonomi 1998, tempat wisata arung jeram dipenuhi wisatawan yang ingin melepas penat, namun akibat COVID-19 semua kegiatan pariwisata terhenti, karena obyek wisata merupakan zona rawan virus karena menjadi pusat orang dan orang yang datang. dari berbagai negara, provinsi, ”imbuhnya.

Baca:  Promosi pariwisata Tanah Laut melalui Cinematic Video Competition diapresiasi

Di sisi lain, Amelia mengatakan, dibukanya kembali destinasi wisata andalan khususnya Kabupaten Sukabumi oleh pemerintah daerah pada awal Juli 2020 dipastikan akan membawa "angin segar" dan optimisme wisata arung jeram ini bisa dihidupkan kembali.

Baca juga: PT Taspen Luncurkan Program Pengembangan Karakter untuk Anak di Kota Sukabumi

Meski Pemerintah Kabupaten Sukabumi membatasi jumlah kunjungan hanya 30 persen dari kapasitas, setidaknya operator bisa kembali beroperasi dan mendapat masukan dari wisatawan yang berkunjung.

Apalagi dengan bantuan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Republik Indonesia sedang mengerjakan perlengkapan arung jeram untuk adaptasi dalam kondisi baru, tentunya sangat berarti dan bermanfaat.

“Harus kita akui, beberapa operator akibat penutupan kegiatan pariwisata belum bisa membeli hand sanitizer, karena 94 persen di antaranya adalah UKM dan perorangan. Tentunya begitu ada izin kita harus menerapkan protokol kesehatan yang maksimal demi keselamatan bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Usman Zaelani mengatakan meski pihaknya telah memberikan izin untuk melanjutkan wisata arung jeram sesuai dengan Peraturan Bupati Sukabumi, namun operator wisata tersebut wajib menerapkan protokol kesehatan bagi pekerja dan wisatawan.

Dia juga tidak ingin grup COVID-19 baru muncul setelah operasi. Oleh karena itu, ia juga memberikan masukan dan juga pengingat kepada operator agar disiplin dan taat pada protokol kesehatan.

Baca juga: Kemenparekraf memberikan bantuan kepada operator arung jeram yang terdampak COVID-19

“Jika kami mendapat atau menerima laporan bahwa operator arung jeram tidak menggunakan protokol kesehatan, mereka tidak akan segan-segan menutupnya. Namun, kami berharap dengan maraknya wisata adrenalin, perekonomian masyarakat dapat pulih kembali,” imbuhnya. (KR-ADR)