Video Storytelling dianggap efektif jadi alat prromosi wisata

Video Storytelling dianggap efektif jadi alat prromosi wisata

Jakarta (ANTARA) – Video storytelling dianggap sebagai cara yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan nilai atau makna yang terdapat di setiap destinasi pariwisata di Indonesia.

Perwakilan Produk dan Kegiatan Pariwisata (Events) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif / Baparekraf, Rizki Handayani, Jumat mengatakan, penting bagi wisatawan untuk dapat meningkatkan nilai atau daya tarik destinasi wisata di setiap daerah.

Salah satunya adalah visual storytelling melalui Video Storytelling, ujarnya.

Ia mengatakan fokus utama saat ini adalah mempromosikan destinasi pariwisata dan memperkenalkan produk pariwisata, karena pariwisata merupakan pengalaman yang memiliki nilai atau cerita yang terkandung di balik destinasi wisata yang ada, seperti Subak di Bali misalnya.

Kata orang, subak adalah persawahan, namun ternyata persawahan di Bali memiliki nilai yang berbeda-beda. Nilai-nilai destinasi wisata ini yang wajib kita perkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Jadi ada rasa bangga, betapa hebatnya nenek moyang kita dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia, ujar Rizki Handayani.

Baca juga: Menparekraf mengapresiasi kesiapan Bali dalam menarik kepercayaan masyarakat di bidang parekraf

Kepala Badan Warisan Budaya Indonesia / Balai Konservasi Warisan Budaya Indonesia Catrini Pratihari Kubontubuh mengatakan, Subak bukan sekadar sawah bertingkat atau berair.

Namun, Subak adalah organisasi petani yang mengelola irigasi secara sosial budaya di persawahan tertentu, memiliki sumber daya air, memiliki pura subak, dan otonom.

Setiap orang Bali yang berbicara tentang Subak pasti menggambarkan gunung, sawah, pura, tempat peribadahan, dan aktivitas manusia. Sebenarnya inilah inti dari Subak, kata Catrini.

Istilah yang berhubungan dengan pertanian pertama kali ditulis pada prasasti Sukawana di Bangli pada tahun 882 yang menyebutkan tanah dan pertanian huma (sawah) dan perlak (sawah).

Sementara itu, Prasasti Klungkung tahun 1071 dan Prasasti Pandak Bandung (Tabanan) tahun 1072 menyebutkan istilah Seuwak yang kemudian dikenal dengan nama Subak.

Saat ini jumlah subak di seluruh Bali sebanyak 1.599 subak dengan luas areal persawahan 76.000 hektar, kata Catrini.

Baca juga: Koordinasi Koordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk memastikan kesiapan pariwisata Bali menerapkan protokol kesehatan (Video)

Baca:  Restoran melayang Dinner in the Sky di Belgia kembali dibuka

Pada 29 Juni 2012 UNESCO menyatakan Subak sebagai salah satu Situs Warisan Dunia. Uniknya, Subak tidak ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Alam atau Budaya Dunia tetapi sebagai perwujudan dari filosofi Tri Hita Karana.

Filosofi Tri Hita Karana adalah penyelenggaraan kehidupan masyarakat Bali yang mengedepankan tiga aspek penting, yaitu Parahyangan; hubungan manusia dengan penciptanya, Pribadi; hubungan manusia dengan orang lain, dan Kelemahan; hubungan dengan lingkungan.

Sangat jarang di Bali melihat sawah yang kotor, tanpa sampah di saluran pembuangan. Karena semuanya menjadi tanggung jawab bersama anggota subak. Biasanya ada denda tersendiri jika saluran air berisi sampah dan kepala subak berhak mengaturnya, kata Catrini.

Catrini juga menambahkan, utilitas pariwisata yang dimaksud adalah bagaimana destinasi wisata itu disebut permakultur.

Kolaborasi antara kegiatan pertanian dan pariwisata, dimana wisatawan diberi kesempatan untuk melihat, merasakan, dan memiliki pengalaman langsung melakukan kegiatan pertanian dengan petani.

Untuk menuturkan nilai-nilai di balik subak, diperlukan media yang dapat menggambarkan keindahan dan keunggulannya, seperti melalui narasi visual.

Baca juga: Industri pariwisata di Bali memantau wisatawan dari negara tetangga baru saat ini

Penulis konten Astrid Savitri menjelaskan bahwa visual storytelling adalah cerita yang disampaikan melalui media visual, seperti foto, video, simbol, warna, atau ilustrasi. Mendongeng secara visual sangat penting bagi manusia. Karena 90 persen otak manusia menerima informasi dalam bentuk visual, ‚ÄĚkata Astrid.

Melalui informasi visual, seseorang akan lebih mudah dan cepat memahami informasi tersebut dan menjadikan informasi tersebut lebih menarik.

Video Storytelling merupakan teknik bercerita dengan menggunakan format video yang menarik. Biasanya digunakan untuk menginformasikan merek, tujuan perjalanan, atau produk perjalanan.

Dengan Video Storytelling kami dapat memperkenalkan tujuan dan produk perjalanan dengan menceritakan nilai-nilai yang ditemukan di dalamnya. Buatlah cerita yang mengharukan, menyulut ikatan emosional dan memberikan jalan keluar bagi wisatawan yang menonton video tersebut, kata Astrid.